Wednesday, March 20, 2013

Janji siswa yang pertama: Taqwa Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Abdi terhadap Tanah Air dan Bangsa Setia kepada Pancasila dan Undang-undang dasar 1945 Implementasi janji siswa yang pertama guna menepis Arus negatif Globalisasi


Janji siswa yang ketiga: Taqwa Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Abdi terhadap Tanah Air dan Bangsa Setia kepada Pancasila dan Undang-undang dasar 1945
            Implementasi janji siswa yang ketiga guna menepis Arus negatif Globalisasi

            Di era globalisasi ini, begitu banyak pengaruh-pengaruh yang setiap saat bisa merong-rong sendi –sendi kehidupan manusia salah satunya keimanan. Begitu mudah dan dan kuatnya arus informasi menyebabkan keimanan setiap siswa mudah goyah. Pengaruh globalisasi kian tampak nyata hal ini terbukti dari adanya perubahan pola prilaku seperti rendahnya spritualitas, penerapan norma serta rendahnya nilai sopan santun. Para siswa cenderung labil dalam menghadapi setiap budaya yang masuk sehingga mudah sekali terjerumus ke lembah hitam. Hal ini cukup ironis memang mengingat peran dari para generasi muda khususnya siswa sangat vital kedepannya, jika hal ini terus berlanjut maka bisa mengakibatkan lunturnya budaya lokal yang berujung kepada lunturnya semangat nasionalisme.
            Selain masalah keimanan dan ketaqwaan masalah yang di hadapi para generasi muda khususnya pelajar adalah rendahnya jiwa nasionalisme(cinta terhadap tanah air) sebab pada dasarnya Mencintai adalah kunci dari segala hal. Tetapi ‘cinta’ yang satu ini bukan sebagaimana cinta yang semestinya menjadi tema yang disukai remaja pada umumnya. Namun, mengerucut pada nasionalisme yang didasari oleh rasa cinta terhadap negaranya. Hanya saja rasa cinta yang rendah jelas akan berdampak pada ketidak abdiannya terhadap bangsa dan lebih bersikap acuh atau apatis.
            Hal yang tak kalah menghawatirkan juga muncul yang di sebabkan oleh nilai-nilai yang tertuang dalam butir-butir pancasila kurang mendapat perhatian dari generasi muda padahal setiap butir-butir pancasila banyak tertuang nilai-nilai luhur dari bangsa Indonesia ini. Seandainya hal ini terus berlanjut bukan mustahil kedepannya kita akan kehilangan jati diri. Sebab kita tidak mempunyai pegangan dan pedoman hidup. Yang berujung kepaada ke eksistensian bangsa bisa goyah.
Untuk menanggulangi hal tersebut di perlukan dukungan dari berbagai pihak, untuk menanggulangi Lunturnya keimanann dan ketaqwaan serta nasionalisme. Peran nyata dari semua pihak memang sangat di perlukan di mulai dari lingkungan keluarga yang merupakan lembaga social yang terkecil. Pihak keluarga paling berperan dalam membentuk kepribadian sebab pihak keluarga adalah lembaga social yang pertama. Selain dari pihak keluarga diperlukan juga dukungan dari lembaga pendidikan sebab lewat lembaga pendidikanlah kepribadianm generasi muda khususnya pelajar akan di gembleng kepribadiannya guna menghadapi setiap tantangan hidup. Dan yang terakhir dukungan dari masyarakat, masyarakat adalah lembaga sosialisai yang ketiga yang akan ditempuh oleh generasi muda khususnya pelajar. Di lingkunan masyarakatlah nantinya yang akan paling mempengaruhi kepribadian seseorang maka dari itu peranan dari tokoh masyarakat atau lembaga masyarakat diperlukan guna memberikan arahan, bimbingan dan rangsangan agar mau bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.
Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk menggulangi serbuan arus infornasi di perlukan keimanan dan ketaqwaan dari masing-masing individu agar tidak terjerumus ke lembah hitam sebab seseorang yang beriman pasti tidak mudah goyah pendiriannya. Selain itu untuk menangulangi pengaruh globalisasi di perlukan juga adanya pendidikan karakter bangsa melalui implementasian butir-butir sila-sila pancasila sebab di dalam butir-butir pancasila terkandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia agar tidak kehilangan jati diri. Selain itu di perlukan juga dukungan dari berbagai pihak untuk menepis serbuan arus globalisasi, seperti keluarga, sekolah serta masyarakat.

Tuesday, March 19, 2013

Nilai Sebuah Kasih Sayang


Malam kian kelabu menyelimuti Desa Basukih, sang Bulanpun tampak malu-malu menunjukan sinarnya  makin membuat malam kian kelabu, sekelabu hati Wawan yang tengah termenung di teras pojok.  Sekali-kali tetesan hujan jatuh tanda sang Langit turut merasakan kesedihan yang dialami Wawan, Yang ia pikirkan hanyalah perihal mengenai sang Anak yang akhir-akhir ini sering berbuat aneh di luar kebiasaannya , seperti hari kemarin bagaikan petir di siang bolong Wawan begitu terpukul mendengar berita dari  teman sekolahnya anaknya bahwa anaknya bolos sekolah ketika penerimaan raport selain itu juga Seorang tukang pos pernah datang ke Rumahnya untuk mengembalikan surat karena tidak berisi alamat tujuan pak Pos tersebut mengatakan bahwa anaknyalah yang mengirim surat dengan alamat kosong tersebut,  tidak hanya itu saja sang anak juga sering mengurung diri di kamar dan yang lebih parah lagi sang anak kedapatan menkonsumsi obat penenang . semua hal yang dilakukan anaknya sungguh bertentangan dengan kesehariannya. “mungkinkah ini terjadi setelah ia di tinggal Ibunya?????” gumam wawan. Hatinya begitu kacau tanpa tersadar tetes demi tetes air mata membasahi pipinya. “ Ya Tuhan apakah ini merupakan karma? Jika ini memang karma yang mesti hamba terima, hamba rela. Tapi berikanlah hambamu ini kekuatan untuk menghadapinya ya Tuhan” hatinya semakin jadi tak menentu ingin sekali Rasanya untuk langsung menghadap Tuhan dan memberikan hati nuraninya langsung supaya tidak perlu lagi menjelaskan panjang lebar   persoalan hidup yang seakan tiada henti-hentinya  mencekram , menusuk bahkan meremukan pikirannya.
Jam terus berdetak tanda sang waktu terus berjalan , angin malam  berhembus merasuk hingga ke tulang sumsum. Dilihatnya jam dinding jarum pendek menunjuk angka 12, berarti sudah 3 jam lebih ia menangis dan berdoa. Dengan langkah gontai dan terseok-seok ia paksakan kakinya untuk melangkah menuju kamarnya. Kemudian ia rebahkan tubuhnya ia pejamkan matanya semakin ia pejamkan matanya semakin ia ingat akan kenangan ketika mereka sekeluarga memancing di Danau , dengan beralasan karpet merah dengan ditemani api unggun, tidak lupa juga mereka membawa bekal piknik . Wawan yang memang hobi memancing tidak lupa membawa alat-alat pancing, semua sudah di persiapkannya dari rumah ia beranjak menuju danau ia lemparkan kail ke danau dengan sabar ia menunggu umpannya di sambar ikan. Tak berapa lama menunggu tampak kail yang di pegang wawan bergerak tanda umpan  telah dimakan ikan, dengan sekuat tenaga ia tarik kailnya dan Senyum semringah menghias wajahnya. Ikan Mujair besar menggelepar tak berdaya . ia panggilkan istrinya untuk membantu dengan sigap si Istri berlari untuk membantu Suaminya hingga ia tak menyadari Batu besar telah menghadang  langkah kakinya yang membuat keseimbangannya goyah dan kepalanya  menabrak batu cadas yang ada di depannya . Sudah jatuh tertimba tangga pula ia malah tercebur ke danau, perlahan-lahan Danau tersebut berubah jadi merah Wawan tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya ia termenung bagai patung hingga jerit tangis anaknya menyadarkannya. Ia terkesiap dan tanpa basa-basi lagi ia ceburkan dirinya ke danau untuk menyelamatkan istrinya, ia angkat istrinya dari danau dan langsung direbahkannya tubuh yang tak berdaya tersebut di cek napas dan nadinya yang tidak ada pergerakan ia tekan-tekan perut istrinya seperti film perang  yang ia sering  tonton tapi takdir berkata lain, Sang istri telah berpulang kea lam keabaian. Anaknya terus menjerit memecahkan telinga, air matanya membanjiri pipinya.
Wawan terkesiap matanya melotot mulutnya mengangga ia tidak mau lagi mengingat masa itu tetapi semakain ia ingin melupakannya justru ia semakin mengingat kejadian tersebut.  Di kamar yang dulunya menjadi tempat peristirahatannya kini telah menjadi penjara ya penjara kesunyian bahkan hingga Sang surya menapakan sinarnya belum juga bisa memejamkan matanya barang sejenak . kepalanya terasa pecah karena berlama-lama berdiam diri di kamar, ia paksakan untuk bangun . badannya serasa remuk karena kelelahan yang amat sangat dengan berjalan terseok-seok, mata yang merah menggelembung ia menyeret-nyeret kakinya menuju dapur. Ia ingin membuat secangkir kopi sekedar untuk meringankan sakit kepalanya , ia buka keran air , air yang jatuh ia bilaskan ke mukanya dengan harapan mampu menyegarkan otot wajahnya. Kemudian  ia ambil ketel  untuk menampung airnya setelah ketel setengah penuh ia taruh di atas kompor dan ia hidupkan apinya sembari menunggu air masak ia mengambil cangkir ia campurkan kopi  dengan gula berbanding 1 banding 3  sampai airnya matang ia tuangkan kedalam cangkir diaduknya beberapa kali kemudian ia cicipi dan ternyata kopi yang berisi 3 sendok gula terasa pahit ia tambahkan lagi sebanyak 1 sendok tapi nihil masih serasa pahit padahal dulu kopi tanpa gulapun terasa manis tatkala kopi dihidangkan oleh istrinya ditemani senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya tapi kini semua organ tubuh dan indranya seakan sudah mati.  ia bagaikan mayat hidup yang tidak dapat lagi merasakan keindahan rasa di dunia ini. Ia paksakan menenggak kopi sambil melangkah ke ruang tamu ia rebahkan tubuhnya di kursi goyang kesayangannya. Kini  ia kembali merenung karena tidak ada lagi yang akan membuatkannya kopi manis, taka ada lagi yang menyiapkan  air hangat untuk di pakai mandi dan tak  ada lagi wajah cantik yang membuat suasana rumah terasa indah. Dengan suara parau ia panggil anaknya yang sedari tadi belum menunjukan batang hidungnya . pintu kamar sang anakpun terbuka dengan senyum sayu ia hampiri Ayahnya . Wawanpun menyuruh anaknya untuk duduk di sampingya sembari mengelus kepala sang anak. “ nak apa kamu benci sama ayah?”. “kenapa aku mesti benci sama ayah , ayah adalah orang yang paling  ku kagumi di dunia ini ayah adalaha orang yang tegar , ayah juga memiliki cinta yang besar terhadap aku”balas anaknya. “lantas kenapa sejak di tinggalkan ibu akhir-akhir ini sikapmu Nampak aneh” sikapku yang mana Yah?”Tanya anaknya tak mengerti. “tolong di jawab dengan jujur! Kenapa sewaktu penerimaan raport hasil belajar kau malah bolos sekolah temanmu anto yang bilang begitu kepada Ayah?”Tanya wawan. “maafkan aku Yah, bukannya aku bermaksud seperti itu?”. “lantas apa maksudmu?”Tanya wawan cepat. “begini Yah Bu Yuli wali kelasku mengatakan Raport Hasil belajar agar di ambil oleh Ibu dari masing-masing siswa karena kebetulan bertepatan dengan hari Ibu, untuk itulah aku tidak mau melihat Ayah bersedih karena teringat akan ibu lagi untuk itulah sebabnya aku lebih memilih tidak mengambil rapot saja!”aku anaknya. Wawan terkejut mendengar pengakuan dari anaknya, hatinya luruh air matanya sekuat tenaga ia bendung. “lantas kenapa kau juga sering mengirim surat ke kantor pos akan tetapi dengan alamat yang kosong?” Tanya Wawan dengan suara parau “Ayah tahukah perasaanku saat ini? Aku rindu sekali senyuman Malaikat yang telah melahirkanku, Aku selalu terbayang-bayang wajah IBu aku rindu,rindu setengah mati ingin sekali rasanya mengirimi ibu surat di Surga tapi aku tidak tahu alamatnya Yah?”jawab jujur anaknya dengan kepala yang tertunduk. Akhirnya air mata yang sedari tadi ditahan Wawan kini jebol sudah, ibarat air danau yang tumpah akibat bendungan yang jebol yang siap meluluhlantakan apa yang ada di depannya. Dengan sekuat tenaga dan suara paraunya dipaksakaan kembali suaranya untuk menanyai lagi anaknya “dan yang terakhir kenapa kau sering mengurung diri di kamar dan meminum obat penenang?”,”ayah selama kehilangan Ibu hatiku terasa di penjara, aku selalu merasakan kedinginan yang tidak aku bisa jelaskan aku terjebak di penjara kesunyian yah, bahkan dalam mimpipun kehampaan masih saja menggelayut dan merasuk pikiranku. Ku pikir dengan minum obat penenang semua akan baik  tetapi tetap saja aku tidak bisa mengusir kehampaan di hatiku”. Meledak sudah emosi Wawan ia bahkan tak kuasa sekedar untuk berdiri kakinya lemas, kemudian ia peluk anaknya erat.
Dalam tangis Wawan berkata, “nak Ibumu sudah tiada dan badan kasarnyapun telah musnah tapi selama kita punya hati maka jiwa kita selamanya akan bersatu!” “Ibumumu sekarang tinggal disini nak!” wawan menunjuk dada sebelah kiri anaknya, “nak ketahuilah sekarang kau tidak sendirian karena kau masih punya Ayah, Ayah tidak bisa menjanjikan mu materi yang melimpah hanya kebersamaanlah yang dapat ayah janjikan kepadamu!” mendengar pernyataan dari Wawan anaknya terkejut ia baru menyadari bahwa ia masih beruntung karena masih memiliki sosok ayah yang patut dibanggakan selama ini ia kira hanya kasih dari Ibunya saja yang membuatnya dapat menjadi sekarang ini. Akan tetapi kasih Ibu tanpa Disertai kasih saying seorang ayah akan hambar rasanya, Ayahnya yang terlihat tegar selama ini ternyata memiliki hati yang lembut jua. Dalam tangisannya anaknya berkata “ayah aku sudah kehilangan ibuku aku tidak mau lagi kehilangan Ayah yang aku cintai” kata anaknya jujur. Setelah mengatakan hal tersebut Pikiran hampa  yang selama ini bergelayut dan menghantui pikiran anaknya seakan disinari kembali akan cahaya kasih yang terang dan lembut hingga membuat kegelapan hati yang dialami anaknya tak lagi gelap, perasaannya lega ingin sekali rasanya terbang ke angkasa dengan perasaan seperti itu. Dalam haru Wawan berkata dalam hati “Terimaksaih Tuhan ternyata anakku teteaplah anakku bukan orang lain yang selama ini kubayangkan!” dengan senyuman yang sumringah wawan kembali lagi meneguk kopi yang sudah mulai agak mendingin, ia terkejut karena kopi berisi 2 sendoh teh makan gula yang tadinya pahit ia rasakan kini berubah menjadi manis semanis senyuman anaknya.

Kepak Sayap Sang Pendekar Elang 2 -sebuah takdir pertemuan-


                Terkesiaplah Buk Murya melihat 3 ekor srigala menanti di depannya kurang lebih berjarak 3 meter. Dengan hati-hati ia mnaruh Anaknya di sebuah semak-semak hujan yang turuin diharapkan dapat menyamarkan bau anaknya. Dengan keberanian yang ia kumpulkan sedari tadi ia meraih sebongkah kayu sebesar 1paha orang dewasa, para srigala tampak berjalan perlahan menghampiri bu murya dengan mata merah menyala gigi menyeringai disertai liur yang menetes berjalan semakin dekat tiba-tiba saja 1 srigala berlari kea rah bu murya , buuugggghhhh . . . . . .     1 pukulan tepat mengenai kepala srigala tersebut hingga terlempar , srigala tersebut tampak roboh namun kembali bangkit namun kali ini dengan terhuyung-huyung . 2 ekor srigala lainnya berjalan mengelilingi bu murya, begitupun bu murya ia mengambil ancang-ancang untuk memukul kembali srigala yang mencoba untuk mendekat satu srigala tanpa di sadari meyergap dari belakang . “grrrhhhhhhhh”srigala tersebut menggit kaki kiri bu murya “arhhhhhhhh” darah menetes tanpa henti dari  bu murya tanpa piker panjang lagi , , Buuugghhh . . . ia hantamkan kayu itu tepat ditelinga srigala yang menggigitnya kali ini giliran serigala tersebut menegeluarkan darah di seputar mulut dan telinganya, bu Murya merintih menahan rasa sakit di kakinya ia mencoba untuk berdiri kembali ia mencoba menghimpun kembali kekuatannha guna menghadapi 1 srigala yang masih sehat akan tetapi srigala yang dicarinya tidak ia lihat hanya ada 2 ekor srigala yang masih terluka,  ia terkesiap ia teringat dengan anaknya yang ia taruh di semak-semak kurang lebih berjarak 10 meter di balik pohon benalu itu dengan berjalan terseok-seok ia berjalan menuju semak-semak tersbut alangkah kagetnya bu murya menemukan serigala tersebut tengah mengendus-ngendus anaknya yang sedari tadi menangis minta susu. Dengan sekuat tenaga tanpa memperhatikan rasa sakit dan darah yang menetes di kakinya  u murya dengan sekuat tenaga berlari kearah srigala tersebut. HIIIIAATTTTTTTTCCCHHH,,,,, BUGGGGHHHH tepat mengenai punggung  serigala yang tampak terkejut melihat kedatangan bu murya secara tiba-tiba, srigala tersebut melengking menahan rasa sakit, darah di kaki Bu murya  yang menetes kian bertambah banyak saja namun tak ia hiraukan ia mencoba untuk menjadi tameng anaknya.
                hujan yang turun mulai mereda kedua srigala yang terluka tadi mulai berdatangan bermaksud untuk menyerang bu Murya lagi kali ini mereka menyerang secar bersama-sama , ggggggrrrhhhhhh “aaaaaahhhhhhhhhhh” bu Murya merintih karena kaki kanan dan tangan kirinya tercabik gigi srigala tanpa buang waktu lagi .. “hhhiiiaaaaattttt”bu murya mengayunkan kayunya ke dua serigala tadi yang tidak mau melepaskan gigitannya alhasil BUUGGHHHHHH . . . . BUGGHHHHHHH  tepat mengenai kepala dan punggung serigala tadi hingga membuat kedua serigala  terkapar bersimbah darah selain itu tidak ada lagi tanda-tanda mulai bangkitnya lagi sreigala tersebut Tnda sudah mati. Tinggal 1 serigala lagi yang masih hidup namun aneh bukannya menyerang bu murya serigala tersebut malah melolong sejadi-jadinya , bu murya terkesiap karena serigala yang datang sangat banyak ternyata serigala tersebut memanggil kawanannya , bu Murya kembali lemas setelah melihat beberapa gigi serigala tersebut bersimbah darah dan terselip kain baju suaminya ia menjadi yakin bahwa suaminya telah meninggal di terkam serigala-serigala tersebut bu muryapun menjadi lemas dan terjatuh bersimpuh ia tak kuasa lagi membendung serigala-serigala tersebut ia tak kuasa lagi melindungi anaknya.
“Ya tuhan kutuklah hambamu ini karena tak sanggup melindungi anak hamba yang merupakan titipanmu dari serigala tersebut , hamba pasrah dengan apapun yang akan terjadi “
 Para serigala berjalan menghampiri bu murya untuk bersiap menyerang, mata bu murya terpejam karena sudah pasrah mengenai segala sesuatu yang akan terjadi tiba-tiba saja “kiiiiiiiaaaaaaaakkkkkk kkkkiiiiiiaaaaakkkkkk kkkkkkkkkkiiiiiiiiiiiaaaaakkk” suara kawanan burung elang menyambar-nyambar serigala tersebut hingga membuat kawanan serigala tersebut lari tunggang langgang bu murya tampak kebingungan.
“kenapa elang tersebut mau membantu ku  apa  ia mengerti dengan apa yang menimpa keluargaku!”Tanya bu murya di dalam hatinya
“apa kalian tidak apa-apa?”Tanya seorang pria di belakangnya
“anda siapa apa anda yang menyuruh elang-elang tersebut membantu saya?”Tanya bu murya
“aku ki kanjuruh kalian selamat sekarang!” sambil menggendong anaknya
Betapa terkejutnya bu murya mendengar nama tersebut,
“aa…. A..aaa.pa Anda  yang di juluki Pendekar elang dari gunung berbatu?”Tanya bu murya terbata-bata
“ia , , tadi aku mendengar suara lolongan serigala jadi aku langsung memutusakan untuk melihatnya kesini”
“te . . te … terimakasih aahhhhhh” Bu muryapun ambruk ketanah karena kekurangan darah
“to..to..to… longlah ja..ja..jaga anaku men…diang. Aa …aayahnya ingin ia ja..jadi pende..kar yang he..heebat!”pinta bu Murya
“siapa nama anakmu?”
“Ra…ra..ra…ndi”
“baiklah aku akan menjaga randi, seprtinya takdir telah mempertemukan kita akan kubuat ia menjadi pendekar tanpa tanding yang memiliki sipat ksatria!” kata Ki kanjuruh
“be…ber..berjanjilah!”pinta Bu Murya
“Ia aku berjanji”jawab Ki Kanjuruh
                Mendengar hal tersebut Bu Muryapun merazakan ketennangan batin yang luar biasa, ia telah berhasil melindungi anaknya meskipun hal itu menyebabkan ia menuju kea lam keabadian, ia sangat angga karena telah mempunyai suami yang mau berkorban demi keluarganya,ia ingin di kehidupan selanjutya mereka akan kembali lagi di pertumakan dalam 1 harmoni kebersamaan. Mata bu muryapun semakin berat detak njantung semakin melemah perlahan dsemi perlahan kegelapan kian tampak nyata, hingga pada akhirnya detak jantungnya benar-benar berhenti, Bu Murya telah berpulang sebagai sosok pendekar pemberani demi menjaga anaknya ia mengorbankan nyawanya sungguh hal yang patut di teladani.  Setelah Bu murya meninggal Ki kanjuruh kemudian mencari jasad suami Bu Murya akan tetapi hanya tersisa Tulang belulangnya saja maka dari itu Ia kumpulkan tulang belulangya kemudian memakamkannya di sebelah makam Bu Murya secara layak ia Buatkan sebongkah batu sebagai nisannya dan iapun menulis di batu tersebut “PAK MURYA DAN IBU MURYA SOSOK PAHLAWAN TELADAN”  begitulah tulisannya  Ki Kanjuruh  ingin  kelak Randi mengetahui pengorbanan yang di lakukan Oleh Ayah dan Ibunya dan meniru sikap ksatria dari kedua orang Tuanya, Karena menurutnya Seseorang itu dikenang bukan dari bagaimana ia hidup tapi bagaiman ia mati! Bu Murya Dan Pak Murya mati untuk melindungi Anaknya Ia akan abadi sebagai seoarng pahlawan.
                Setelah selesai memakamkannya Ki Kanjuruhpun membawa Randi Pulang Kerumahnya di temani para Elang Peliharaannya Ki Kanjuruh menggunakan Jurus meringankan tubuh ia melompat dari 1 pohon ke pohon lainnya dengan kecepatan tinggi dalam sekejap mereka telah sampai di Puncak Gunung Berbatu di hadapannya terhampar Batuan yang menjulan tinggi  sekali lagi dengan Ilmu meringankan tubuhnya ia naik ketas seperti terbang tinggi batu tersebut menjulang sekitar 800 Meter di sana banyak terdapat sarang burung elang peliharaanya,  di p[uncak Batu tersebutlah terdapat gua kediaman Ki kanjuruh. Pantas saja selama ini tidak satupun orang berhasil menemui kediamannya kartena untuk mencapa tempat kediamannya di perlukan ilmu meringankan tubuh dan hanya orang-orang berilmu tinggilah yang mampu menjangkau daerah itu. Setelah tiba di atas kemudian ki Kanjuruh masuk ke gua ia rebahkan Randi di sebuah batu datar di sana tidak ada balai karena Ki kanjuruh Tidur dalam pose Semedi tidak rebahan seperti kebanyakan orang, setelah merebahkan Randi ia  kemudian meyalakan obor penerangan dan menyalakan perapian sekedaar untuk menghangatkan badannya, ia kembali menggendong Randi ia taruh di pangkuannya sembari mengayun-ngayunkan agar Randi Lebih terlelap tidurnya di tengah pencahayaan yang seadanya Ki kanjuruh terkejut bukan kepalang melihat sesuatu Di tubuh Randi.
“Ta…Ta….tanda ini?”pekik Ki kanjuruh tak percaya
Bersambung……..

Monday, March 18, 2013

Kepak Sayap Sang Pendekar Elang 2 -sebuah takdir pertemuan-


                Terkesiaplah Buk Murya melihat 3 ekor srigala menanti di depannya kurang lebih berjarak 3 meter. Dengan hati-hati ia mnaruh Anaknya di sebuah semak-semak hujan yang turuin diharapkan dapat menyamarkan bau anaknya. Dengan keberanian yang ia kumpulkan sedari tadi ia meraih sebongkah kayu sebesar 1paha orang dewasa, para srigala tampak berjalan perlahan menghampiri bu murya dengan mata merah menyala gigi menyeringai disertai liur yang menetes berjalan semakin dekat tiba-tiba saja 1 srigala berlari kea rah bu murya , buuugggghhhh . . . . . .     1 pukulan tepat mengenai kepala srigala tersebut hingga terlempar , srigala tersebut tampak roboh namun kembali bangkit namun kali ini dengan terhuyung-huyung . 2 ekor srigala lainnya berjalan mengelilingi bu murya, begitupun bu murya ia mengambil ancang-ancang untuk memukul kembali srigala yang mencoba untuk mendekat satu srigala tanpa di sadari meyergap dari belakang . “grrrhhhhhhhh”srigala tersebut menggit kaki kiri bu murya “arhhhhhhhh” darah menetes tanpa henti dari  bu murya tanpa piker panjang lagi , , Buuugghhh . . . ia hantamkan kayu itu tepat ditelinga srigala yang menggigitnya kali ini giliran serigala tersebut menegeluarkan darah di seputar mulut dan telinganya, bu Murya merintih menahan rasa sakit di kakinya ia mencoba untuk berdiri kembali ia mencoba menghimpun kembali kekuatannha guna menghadapi 1 srigala yang masih sehat akan tetapi srigala yang dicarinya tidak ia lihat hanya ada 2 ekor srigala yang masih terluka,  ia terkesiap ia teringat dengan anaknya yang ia taruh di semak-semak kurang lebih berjarak 10 meter di balik pohon benalu itu dengan berjalan terseok-seok ia berjalan menuju semak-semak tersbut alangkah kagetnya bu murya menemukan serigala tersebut tengah mengendus-ngendus anaknya yang sedari tadi menangis minta susu. Dengan sekuat tenaga tanpa memperhatikan rasa sakit dan darah yang menetes di kakinya  u murya dengan sekuat tenaga berlari kearah srigala tersebut. HIIIIAATTTTTTTTCCCHHH,,,,, BUGGGGHHHH tepat mengenai punggung  serigala yang tampak terkejut melihat kedatangan bu murya secara tiba-tiba, srigala tersebut melengking menahan rasa sakit, darah di kaki Bu murya  yang menetes kian bertambah banyak saja namun tak ia hiraukan ia mencoba untuk menjadi tameng anaknya.
                hujan yang turun mulai mereda kedua srigala yang terluka tadi mulai berdatangan bermaksud untuk menyerang bu Murya lagi kali ini mereka menyerang secar bersama-sama , ggggggrrrhhhhhh “aaaaaahhhhhhhhhhh” bu Murya merintih karena kaki kanan dan tangan kirinya tercabik gigi srigala tanpa buang waktu lagi .. “hhhiiiaaaaattttt”bu murya mengayunkan kayunya ke dua serigala tadi yang tidak mau melepaskan gigitannya alhasil BUUGGHHHHHH . . . . BUGGHHHHHHH  tepat mengenai kepala dan punggung serigala tadi hingga membuat kedua serigala  terkapar bersimbah darah selain itu tidak ada lagi tanda-tanda mulai bangkitnya lagi sreigala tersebut Tnda sudah mati. Tinggal 1 serigala lagi yang masih hidup namun aneh bukannya menyerang bu murya serigala tersebut malah melolong sejadi-jadinya , bu murya terkesiap karena serigala yang datang sangat banyak ternyata serigala tersebut memanggil kawanannya , bu Murya kembali lemas setelah melihat beberapa gigi serigala tersebut bersimbah darah dan terselip kain baju suaminya ia menjadi yakin bahwa suaminya telah meninggal di terkam serigala-serigala tersebut bu muryapun menjadi lemas dan terjatuh bersimpuh ia tak kuasa lagi membendung serigala-serigala tersebut ia tak kuasa lagi melindungi anaknya.
“Ya tuhan kutuklah hambamu ini karena tak sanggup melindungi anak hamba yang merupakan titipanmu dari serigala tersebut , hamba pasrah dengan apapun yang akan terjadi “
 Para serigala berjalan menghampiri bu murya untuk bersiap menyerang, mata bu murya terpejam karena sudah pasrah mengenai segala sesuatu yang akan terjadi tiba-tiba saja “kiiiiiiiaaaaaaaakkkkkk kkkkiiiiiiaaaaakkkkkk kkkkkkkkkkiiiiiiiiiiiaaaaakkk” suara kawanan burung elang menyambar-nyambar serigala tersebut hingga membuat kawanan serigala tersebut lari tunggang langgang bu murya tampak kebingungan.
“kenapa elang tersebut mau membantu ku  apa  ia mengerti dengan apa yang menimpa keluargaku!”Tanya bu murya di dalam hatinya
“apa kalian tidak apa-apa?”Tanya seorang pria di belakangnya
“anda siapa apa anda yang menyuruh elang-elang tersebut membantu saya?”Tanya bu murya
“aku ki kanjuruh kalian selamat sekarang!” sambil menggendong anaknya
Betapa terkejutnya bu murya mendengar nama tersebut,
“aa…. A..aaa.pa Anda  yang di juluki Pendekar elang dari gunung berbatu?”Tanya bu murya terbata-bata
“ia , , tadi aku mendengar suara lolongan serigala jadi aku langsung memutusakan untuk melihatnya kesini”
“te . . te … terimakasih aahhhhhh” Bu muryapun ambruk ketanah karena kekurangan darah
“to..to..to… longlah ja..ja..jaga anaku men…diang. Aa …aayahnya ingin ia ja..jadi pende..kar yang he..heebat!”pinta bu Murya
“siapa nama anakmu?”
“Ra…ra..ra…ndi”
“baiklah aku akan menjaga randi, seprtinya takdir telah mempertemukan kita akan kubuat ia menjadi pendekar tanpa tanding yang memiliki sipat ksatria!” kata Ki kanjuruh
“be…ber..berjanjilah!”pinta Bu Murya
“Ia aku berjanji”jawab Ki Kanjuruh
                Mendengar hal tersebut Bu Muryapun merazakan ketennangan batin yang luar biasa, ia telah berhasil melindungi anaknya meskipun hal itu menyebabkan ia menuju kea lam keabadian, ia sangat angga karena telah mempunyai suami yang mau berkorban demi keluarganya,ia ingin di kehidupan selanjutya mereka akan kembali lagi di pertumakan dalam 1 harmoni kebersamaan. Mata bu muryapun semakin berat detak njantung semakin melemah perlahan dsemi perlahan kegelapan kian tampak nyata, hingga pada akhirnya detak jantungnya benar-benar berhenti, Bu Murya telah berpulang sebagai sosok pendekar pemberani demi menjaga anaknya ia mengorbankan nyawanya sungguh hal yang patut di teladani.  Setelah Bu murya meninggal Ki kanjuruh kemudian mencari jasad suami Bu Murya akan tetapi hanya tersisa Tulang belulangnya saja maka dari itu Ia kumpulkan tulang belulangya kemudian memakamkannya di sebelah makam Bu Murya secara layak ia Buatkan sebongkah batu sebagai nisannya dan iapun menulis di batu tersebut “PAK MURYA DAN IBU MURYA SOSOK PAHLAWAN TELADAN”  begitulah tulisannya  Ki Kanjuruh  ingin  kelak Randi mengetahui pengorbanan yang di lakukan Oleh Ayah dan Ibunya dan meniru sikap ksatria dari kedua orang Tuanya, Karena menurutnya Seseorang itu dikenang bukan dari bagaimana ia hidup tapi bagaiman ia mati! Bu Murya Dan Pak Murya mati untuk melindungi Anaknya Ia akan abadi sebagai seoarng pahlawan.
                Setelah selesai memakamkannya Ki Kanjuruhpun membawa Randi Pulang Kerumahnya di temani para Elang Peliharaannya Ki Kanjuruh menggunakan Jurus meringankan tubuh ia melompat dari 1 pohon ke pohon lainnya dengan kecepatan tinggi dalam sekejap mereka telah sampai di Puncak Gunung Berbatu di hadapannya terhampar Batuan yang menjulan tinggi  sekali lagi dengan Ilmu meringankan tubuhnya ia naik ketas seperti terbang tinggi batu tersebut menjulang sekitar 800 Meter di sana banyak terdapat sarang burung elang peliharaanya,  di p[uncak Batu tersebutlah terdapat gua kediaman Ki kanjuruh. Pantas saja selama ini tidak satupun orang berhasil menemui kediamannya kartena untuk mencapa tempat kediamannya di perlukan ilmu meringankan tubuh dan hanya orang-orang berilmu tinggilah yang mampu menjangkau daerah itu. Setelah tiba di atas kemudian ki Kanjuruh masuk ke gua ia rebahkan Randi di sebuah batu datar di sana tidak ada balai karena Ki kanjuruh Tidur dalam pose Semedi tidak rebahan seperti kebanyakan orang, setelah merebahkan Randi ia  kemudian meyalakan obor penerangan dan menyalakan perapian sekedaar untuk menghangatkan badannya, ia kembali menggendong Randi ia taruh di pangkuannya sembari mengayun-ngayunkan agar Randi Lebih terlelap tidurnya di tengah pencahayaan yang seadanya Ki kanjuruh terkejut bukan kepalang melihat sesuatu Di tubuh Randi.
“Ta…Ta….tanda ini?”pekik Ki kanjuruh tak percaya
Bersambung……..

Newer Posts Older Posts Home

Share With

Twitter Google Plus Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Total Pengunjung Minggu Ini