Friday, March 15, 2013

Prajurit Siluman

VIVAnews - Afghanistan, medan perang tak berujung, yang merenggut nyawa ribuan tentara koalisi yang dipimpin Amerika Serikat. Sebuah kesalahan kecil bisa berakibat hilangnya nyawa, salah satunya yang diakibatnya bocornya informasi rahasia.

Terkait itu, Pemerintah Australia mengeluarkan peringatan pada pasukannya yang akan menuju Afghanistan: pasukan Taliban menyamar sebagai "gadis seksi" di situs jejaring sosial, Facebook. Tujuannya, untuk menjalin pertemanan dengan para serdadu dan mengorek informasi penting. Sebagai bagian dari misi mata-mata.

"Personel media dan musuh menciptakan profil palsu untuk mengumpulkan informasi. Misalnya, Taliban menggunakan foto perempuan cantik di halaman depan profil Facebooknya dan berteman dengan para tentara," demikian peringatan pemerintah yang dimuat situs media Australia, Daily Telegraph.

Pemerintah Australia juga memperingatkan, geotagging -- fungsi dari banyak situs yang diam-diam mencatat lokasi dari mana posting dibuat atau foto diunggah, juga berpotensi menimbulkan ancaman.

Tak hanya para serdadu, keluarga dan rekan-rekan personel militer juga diminta berhati-hati. Sebab, tanpa sadar mereka bisa menempatkan tentara dalam risiko dan mengorbankan misi yang dirancang sekian lama, dengan membagi informasi secara online.

Peringatan makin gencar dikeluarkan menyusul terbunuhnya tiga prajurit Australia di dalam pangkalannya bulan lalu, diduga oleh pasukan terlatih dari Afghanistan.

Bahaya media sosial juga terungkap dalam tinjauan media sosial dan pertahanan yang dilakukan pemerintah federal. Tinjauan itu menemukan, adanya "ketergantungan" pada pengaturan privasi telah menyebabkan "rasa aman palsu" di antara personel militer.

Sebanyak 1.577 personel pertahanan yang disurvei dalam laporan tersebut mengaku tak punya bayangan, musuh bisa berpura-pura sebagai teman sekolah atau perempuan cantik.

Selain mendidik para pasukan, review merekomendasikan pemahaman bagi keluarga dan teman-teman serdadu tentang bahaya rincian nama, pangkat, dan lokasi tugas di medan perang.

Sosial media telah menjadi keprihatinan baru bagi militer. Pembangunan infrastruktur di Afganistan, termasuk WiFi, justru telah menciptakan peluang untuk Taliban. Demikian dilaporkan Business Insider.

Sejumlah tentara mengusulkan media sosial dilarang. "Aku melihat banyak personel memposting info atau gambar mereka yang mengungkap kesatuan mereka dan di mana mereka ditempatkan," kata salah satunya.
Sementara, pakar pertahanan, Peter Hannay dari Edith Cowan University mengatakan, informasi geotag adalah "tambang informasi" yang bisa dijual pada siapapun. Departemen Pertahanan Australia kini sedang menyusun aturan penggunaan media sosial yang akan diberlakukan Natal mendatang. (Daily Mail, News.com.au | umi)

Newer Post Older Post Home

0 comments:

Post a Comment

Share With

Twitter Google Plus Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Total Pengunjung Minggu Ini